Di dunia public relations yang semakin bising, banyak brand terjebak pada mitos: segala yang viral harus ditunggangi. Padahal, bisa jadi di tengah hiruk-pikuk isu, pilihan terbaik seringkali adalah… pura-pura tuli.
Pagi itu Tuku hanya ingin menjual kopi seperti biasa. Baristanya sibuk menakar espresso, pelanggan antre menanti minuman favorit, dan hidup berjalan apa adanya.
Hingga tiba-tiba… sebuah Tumbler Tuku yang hilang menjadi pemantik kemarahan massal. Drama Anita pemilik Tumbler Tuku dan seorang petugas keamanan KAI menjadikan Tumbler Tuku menjadi simbol arogansi baru. Dalam hitungan jam, warganet menyerbu. Bukan ke kopi Tuku, tapi ke representasi kekuasaan: si pengguna Tumbler Tuku yang nir empati. Tuku ikut terseret ke dalam percakapan publik nasional tanpa melakukan apa-apa.
Lalu, muncullah si paling ahli marketing, berkata:
“Ini bukan krisis Tuku. Justru Tuku dapat exposure gratis. Setelah isunya reda, ayo bikin gimmick!” Ayo collab sama KAI! Warna tumbler baru: Biru Tantrum!”
Oh, betapa berbahayanya kalimat-kalimat penuh percaya diri itu. Kedengarannya kreatif. Tapi sebenarnya itu menjebak. Itu adalah proposal bunuh diri reputasi.
Karena jika Tuku bergerak terlalu antusias, publik bisa mendadak sadar:
“Loh… jangan-jangan ini semua settingan promosi?”
Dari dugaan → jadi prasangka → jadi tuduhan.
Sekali publik merasa dimainkan, brand langsung ditarik ke kursi pesakitan.
Di Dunia Komunikasi Krisis: Hati Hati Memanfaatkan Situasi
Ada satu prinsip sederhana yang sering diabaikan:
Semakin kamu terlihat ingin memanfaatkan krisis, semakin kamu dianggap sebagai sumber masalahnya.
Tuku saat ini berada di posisi emas yang aneh: Mereka tidak bersalah, tapi terhubung kuat dengan isu Itu artinya: sebuah langkah kecil yang salah bisa menjadi bencana besar. Apalagi Tuku sekarang terasosiasi dengan:
- sikap arogan
- abuse of power
- ketimpangan sosial
- kemarahan publik terhadap otoritas
Publik tidak memisahkan “tumbler” dengan “brand”. Yang terbentuk di kepala mereka: “Tumbler Tuku = alat sok kuasa.” Sekalipun Tuku bukan pelakunya, sentimennya sudah sampai di depan mukanya.
Seni Diam di Tengah Kebisingan
Sejauh ini Tuku melakukan sesuatu yang jenius: Tidak berkata apa-apa. Tidak mendekat. Tidak juga menjauh.
Mereka diam.
Dalam teori manajemen krisis, ini disebut:
Strategic Silence. keputusan sadar untuk tidak mencampakkan diri ke dalam kebakaran opini.
Selama publik masih ribut, Tuku cukup: mengawasi dari kejauhan, mengukur mood publik, dan menunggu badai mereda.
Karena faktanya: Saat publik melupakan sumber emosinya, yang tertinggal hanya nama brand yang makin akrab di kepala.
Kalau Drama Tumbler Tuku Ini Settingan?
Mari sedikit nakal berimajinasi… Jika benar drama ini hasil orkestrasi Tuku?
Maka satu hal yang harus mereka lakukan adalah: Jangan pernah terlihat menikmati kemenangan. Karena drama ini sudah keluar dari kendali.
Ketika emosi publik ambil alih, bahkan mastermind pun bisa terbakar oleh bensin yang ia sulut sendiri. Dalam konteks itu, pilihan Tuku untuk pura-pura budek adalah langkah paling brilian.
Pelajaran untuk Para Marketer yang Terlalu Percaya Diri
Ini perlunya Marketer belajar dari Public Relations, terutama saat situasi komunikasi krisis. Tidak semua viral pantas dirayakan. Tidak semua exposure dapat dijadikan hura-hura.
Apalagi jika publik marah. Narasinya soal arogansi. Brand Anda muncul sebagai alat kecongkakan.
Kadang, reputasi selamat bukan karena ide besar, tapi karena keberanian menahan ego.
Akhir Kata: Ironi Sebuah Tumbler
Lucu ya?
Tuku menjadi pemenang dari drama yang bukan mereka mulai. Tapi untuk tetap menang, mereka harus bertindak seperti tidak pernah menyadari kemenangan itu.
Dalam komunikasi krisis:
Yang diam bukan kalah. Yang diam justru sedang menguasai permainan.
Jadi… biarkan tumbler itu kembali pada fungsinya: Sebagai wadah kopi, bukan sumber konflik sosial.
– Jojo S. Nugroho – The PR Sherpa Edisi: Drama Tumbler Tuku & Strategi Senyap

